Selasa, 04 Desember 2012

Story Of Tian: PART 11

Story Of Tian: PART 11: UJIAN MENAHAN BOKER

PART 11


PART 11
UJIAN MENAHAN BOKER


Sesuai sama judul diatas, kali ini gue mau sedikit berbagi rasa sama kalian semua, biar kita disini sama-sama ngerasain rasanya ujian menahan boker. Kenapa gue bilang gitu, soalnya hari ini tepat hari dimana gue ngejalanin ujian praktek ngajar yang berasa kaya ujian nahan boker. Kalo nahan boker mah kita tuh jadi keliatan gugup, keringet dingin, muka gelisah, bicara terbata-bata, dan gerak motorik yang sangat hati-hati sekali, salah sedikit bisa-bisa orang yang ada di depan kita jadi kena bokernya gara-gara salah gerakan sedikit. Ibarat peribahasa yang barusan muncul di otak gue dan trully original, yaitu begini kira-kira bunyinya “Seperti Boker di Daun Talas, apa daya masuk ke gelas”. Jadi ceritanya tadi gue tuh lagi ujian, dimana gue harus berhadapan dengan bocah-bocah setengah jadi, ditambah 3 orang malaikat penguji(baca : Dosen penguji) yang duduk di baris belakang sambil nempel di tembok. Mereka semua tuh udah bikin gue bener-bener berasa jadi topeng monyet lagi mondar-mandir nyari uang receh. Keringet, ludah semuanya campur aduk sama aroma tubuh yang kebetulan belum sempet gue mandiin tadi pagi, so jadilah gue seekor monyet setengah manusia berseragam sambil ngutak-ngatik gadged yang hanya dengan sekali pencet semua masalah beres.

Hampir satu jam setengah gue bercuap-cuap di depan kelas sambil menyampaikan sabda sang penerbit buku yang semalem gue baca, dan temanya itu tentang gunung api. Muka tegang dicampur sama muka jelek jadinya ya...bisa kalian bayangin lah.., udah gitu pas mau ujian, gue dateng kesiangan padahal udah begadang, tapi tetep aja kesiangaan dan itu bikin gue jadi makin kacau, materi pelajaran mendadak buyar, pandangan kacau, dan jalan tidak beraturan dan itu lebay. Mungkin ada diantara kalian yang ngalamin hal serupa kaya gue meskipun tampang ga serupa, tapi gak apa-apa itu berarti gue langka. Balik lagi ke ujian, jadi selama gue bercuap-cuap, selama itu pula 3 malaikat yang duduk di kursi kosong di baris belakang ternyata udah menguap-nguap, entah bosen, entah emang beneran ngantuk, apa emang gak ngerti sama yang gue omongin. Sempet sesekali ada siswa yang nanya ke gue soal materi, tapi yang gue heran kenapa nanyanya susah? Padahal udah gue suruh ngasih pertanyaan yang gampang, biar gue bisa jawab dengan tingkat kepercayaan diri tinggi, tapi yang ada malah gue jawab dengan tingkat kemaluan yang lemas. Gue bingung harus jawab apa, soalnya sama pertanyaannya aja gue udah lupa apalagi sama materi pelajarannya. Tapi gue beruntung masih bisa ngasih materi yang cukup bisa dicerna dengan akal sehat, dan siswa pun senang, dan 3 malaikat penguji pun sedikit lebih tenang.

Tanpa gue sadari, ternyata waktu ngajar gue udah mau abis, dan disaat itulah gue lolos dari ujian menahan boker dan bebas boker sesuka hati. Gue udah lega abis ngeluarin segenap kemampuan yang gue punya demi keberhasilan ujian itu, dan disini gue mau ngucapin terima kasih buat semua siswa-siswi yang dengan semangat udah merhatin materi yang gue kasih tanpa ribut sedikitpun. Dan gak lupa gue juga mau berterima kasih buat 3 malaikat penguji yang udah setia menemani gue menahan boker di kelas, dan juga udah setia merhatiin gue bercuap-cuap sambil menguap-nguap, tapi itu gak masalah, yang penting beres dan yang penting lulus ujian. Sekali lagi, yang penting beres dan yang penting lulus ujian, dan mungkin itu jadi ujian menahan boker gue yang pertama, dan nantikan ujian menahan boker gue yang berikutnya nanti pas sidang wisuda. Buat kalian yang baca tulisan ini, dan besok kalian akan ujian, gue saranin mending boker dulu sebelum ujian, sebelum kalian boker pas ujian. Semoga kalian lulus ujian menahan boker, dan semoga kalian gak ngalamin kaya yang gue alamin dan gue terjemahkan kedalam sebuah kalimat peribahasa yang berbunyi :

 “Seperti Boker di Daun Talas apadaya masuk ke gelas”.

“Selamat siang selamat berakhir rabu, tetap semangat jangan lupa boker”.

Bandung, 28 November 2012

Atas nama pribadi


Senin, 22 Oktober 2012

Story Of Tian: PART 10

Story Of Tian: PART 10: PART 10 MENYATUKAN PENGALAMAN DAN ILMU ITU TERNYATA MENGASYIKAN                 Mungkin diantara kalian sering berfikir buat apa sih...

PART 10


PART 10
MENYATUKAN PENGALAMAN DAN ILMU ITU TERNYATA MENGASYIKAN

                Mungkin diantara kalian sering berfikir buat apa sih kita belajar?, dan buat apa sih kita pergi ke tempat-tempat yang menurut kita itu sebenernya biasa, dan malah tempat itu kadang sering dikunjungi oleh banyak orang, mungkin hanya beberapa orang aja yang berfikir ke arah sana, namun tak jarang juga ada yang berfikir dan bertanya kenapa sih kita harus rela bangun pagi, dan kadang kesiangan cuma untuk duduk di dalam kelas dalam durasi yang diperkirakan hanya 1-2 jam saja, dan mungkin selama waktu berjalan, ada beberapa diantara kita yang hanya sekedar duduk sambil sesekali memainkan Handphone hanya untuk sekedar bales SMS dari temen, atau malah hanya untuk sekedar melihat Notif  yang muncul di kolom pemberitahuan di situs jejaring sosial yang saat ini sedang diminati oleh masyarakat, terutama kawula muda masa kini yang erat banget sama situs jejaring sosial tersebut, sampai-sampai mereka cenderung lebih paham akan fitur-fitur yang ada didalam situs tersebut, ketimbang fitur-fitur yang ada di dalam modul kuliah yang sering mereka bawa namun jarang mereka baca, karena mereka udah terlalu sibuk dengan isi Handphone mereka, dan itu nyata adanya. Ya, itulah sebagian kecil gambaran dari potret kehidupan yang sedang kita jalani sekarang, dan kalian tidak perlu memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang negatif, karena kalau hal tersebut tidak ada, mungkin hidup ini akan terasa kaku, dan cenderung membosankan.

                Yang tadi itu mungkin hanya sedikit intermezzo dari sekian banyak rutinitas yang udah kita jalani dari hari kehari, dan tentunya sangat menyita waktu kita yang sangat terbatas. Kalau kita bicara soal waktu yang terbatas, dimana kita harus belajar, dan sesekali kita juga harus merefresh otak kita yang saat ini mungkin udah hampir gak sinkron dengan keadaan tubuh kita. Sebenernya ada cara yang menurut saya itu sangatlah mengasyikan, dimana kita bisa melakukan dua kegiatan secara bersamaan dalam waktu yang bersamaan pula, sehingga waktu yang terbatas ini dapat dimanfaatkan secara maksimal, dan tentunya akan memberikan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani kalian, dan keseimbangan itulah yang kita butuhkan saat ini.

                Terus, cara yang seperti apa sih yang bisa memberikan keseimbangan itu?, kalian tidak akan tahu sebelum kalian mengalaminya, mungkin jawaban ini yang akan menjnawab pertanyaan itu, karena cara ini bisa dibilang suatu hal yang terjadi tanpa kita sadari sudah kita alami dalam setiap aktivitas. Pernah gak kalian berfikir ketika kalian sedang berjalan santai di sore hari, dan kalian melihat di sekitar kalian, dan tiba-tiba kalian melihat ada  daun yang jatuh dari pohon dan saat itu kalian menyadarinya dan sempatkah kalian berfikir kenapa daun itu bisa jatuh? Dan kenapa jatuhnya itu selalu kebawah?, mungkin ada beberapa yang sempat berfikir seperti itu, dan selebihnya mungkin hanya menganggapnya sebagai suatu hal yang lumrah. Kalau kalian ingat akan pelajaran fisika, mungkin kalian bisa langsung menjawab kenapa daun bisa jatuh, karena ada hukum Gravitasi, dan ilmu itu telah kalian pelajari sewaktu duduk di bangku SMP dulu. Dan pernahkah kalian mengamati dan bertanya kenapa air danau atau sungai itu memiliki warna yang berbeda?, kenapa air laut itu biru?, kenapa bentuk gunung itu berbeda? Ya meskipun secara umum, bentuk gunung itu cenderung sama, dan kenapa saya bertanya seperti ini?, pernahkah kalian bertanya seperti ini?, tentu hanya sedikit yang bertanya.

                Kalau kalian udah menyadari itu semua, kalian pasti berfikir bahwa di setiap kita melakukan aktivitas, ternyata ilmu pengetahuan itu selalu mengikuti kita, mereka diciptakan oleh tuhan untuk selalu berada di sekeliling kita, dan kita harus mencari ilmu itu sendiri, tentunya melalui proses yang tidak cepat, kita harus belajar di sekolah, dan kita harus membaca buku tentang ilmu-ilmu yang ada, dan telah dibukukan oleh beberapa orang yang sebelumnya sudah menyadari keberadaan ilmu-ilmu tersebut, dan ternyata kalau kita sudah menyadarinya juga, hal itu akan sangat mengasyikan, karena setiap kita pergi ke suatu tempat, kita akan semakin bertambah cerdas, karena kita udah bisa menyatukan antara ilmu dan pengalaman yang secara gak langsung udah melengkapi kebutuhan jasmani dan rohani kita.

                Kalau bicara soal pengalaman, pasti ada diantara kalian yang punya pengalaman lebih yang belum dialami oleh semua orang. Dan lewat pengalaman itulah kita akan mengetahui segala hal yang ada di sekeliling kita. Dan kalian harus selalu ingat bahwa pengalaman itu adalah guru yang paling berharga, sebab tanpa adanya pengalaman, seorang bayi tidak akan bisa berjalan, dan tanpa pengalaman pula, saya tidak akan bisa menulis seperti ini, dan kalian tidak akan bisa mengerti tentang setiap kata yang tertulis disini kalau kalian sebelumnya belum belajar membaca dan menulis, dan itu semua bisa terjadi setelah kita belajar dari pengalaman. Dan lewat pengalaman lah kita dikenalkan dengan ilmu pengetahuan, kalau kita bisa menyatukan keduanya, tentu itu akan sangat mengasyikan, disamping kita tidak akan merasa jenuh, karena harus selalu membaca buku, dan harus selalu duduk di kelas untuk belajar, justru kita akan merasa sangat bebas dan senang kalau kita bisa menyiasati itu semua lewat kegiatan belajar sambil bermain, tidak perlu jauh-jauh, cukup bermain di lingkungan sekitar kita saja itu sudah cukup memberikan kita pengetahuan tambahan, dan pastinya kita akan mendapatkan pengalaman baru yang nantinya akan kita ceritakan ke teman-teman, atau bahkan ke anak cucu kita nanti.

                Sebenernya inti dari tulisan ini apa? Mungkin kalian akan bertanya lagi setelah membacanya, dan saya akan menjawab, intinya saya hanya ingin mengajak kalian untuk mulai menerapkan kembali sistem belajar sambil bermain, sebelum kalian merasa jenuh dan malas untuk belajar, dan pada akhirnya kalian akan menyesal, karena terlalu serius dalam belajar, dan memaksa otak kalian untuk bekerja keras tanpa memberikannya waktu untuk beristirahat sejenak untuk kembali singkron dengan keadaan tubuh kalian yang membutuhkan sedikit kesegaran lewat kegiatan bermain. Kalau itu terjadi, mungkin kalian hanya kaya akan ilmu, tapi miskin akan pengalaman, dan itu sangat disayangkan. Oleh sebab itu, mari kita bermain sambil belajar, sebab dengan bermain, kita juga sudah belajar, belajar mengenal lingkungan, dan belajar mengenal siapa diri kita sebenarnya, dan untuk apa kita dilahirkan sampai nantinya kita akan dipanggil kembali, dan nantinya hanya ilmu dan pengalaman saja yang akan jadi bekal kita dalam menjalani kehidupan. Hanya dua hal itu saja, tidak lebih.

Senin, 24 September 2012

Story Of Tian: PART 9

Story Of Tian: PART 9: PART 9 RASANYA NGAJAR TUH…. Sekarang hari minggu, tepatnya tanggal dua puluh tiga bulan sembilan dua ribu dua belas, waktu yang tepa...

PART 9


PART 9
RASANYA NGAJAR TUH….

Sekarang hari minggu, tepatnya tanggal dua puluh tiga bulan sembilan dua ribu dua belas, waktu yang tepat buat males-malesan sambil manfaatin waktu yang terbatas diantara kesibukan yang menyita waktu. Dan sekarang juga waktu yang tepat buat gue nulis lagi, setelah sekian lama jari-jari tangan ini gak sempet buat menggerayangi tombol-tombol keyboard yang mulus ini, dan mungkin otot-otot yang ada di masing-masing jari di tangan gue ini udah mulai kendor, gak sekuat dulu, karena sekarang gue udah mulai sibuk ngejalanin tugas suci dari kampus tempat gue kuliah. Sebenernya bukan tugas suci, melainkan suatu keterpaksaan buat gue ngejalanin syarat terakhir sebelum gue mulai nyusun skripsi. Tugasnya sih simpel, sesimpel namanya karena udah disingkat, jadi simpel. Jadi nama tugasnya itu PLP (setelah disingkat), jadi PLP disini tuh bukan singkatan dari ”Program Latihan Pembantu” ataupun “Pembantu Lupa Pulang”, melainkan singkatan dari “Program Latihan Profesi”. Sesuai dengan namanya, jadi sebelumnya gue pernah cerita di tulisan gue yang sebelumnya kalo gue sekarang kuliah tingkat akhir, dan gue kuliah di jurusan Pendidikan Geografi. Karena ada embel-embel pendidikan itulah gue sekarang harus ngejalanin syarat buat nyusun skripsi, yaitu ngejalanin PLP itu sendiri, tapi gue gak sendirian, gue ngejalaninnya bareng temen-temen gue yang sekarang juga lagi ngejalaninnya tapi bedanya gue angkatan 2008, sedangkan mereka angkatan 2009, miris yah, harusnya gue udah lulus. Oke kita tunda dulu kelulusan, jadi sekarang gue dan mereka harus ngejalanin praktek ngajar di SMA yang ada di Bandung. Dan gue sekarang harus menjelma sebagai seorang guru yang harus bisa digugu dan ditiru. Kalo inget kata GURU, gue jadi inget waktu gue masih SMA dulu, dan sekarang gue mau sedikit ngajak kalian buat balik lagi ke masa lalu, jadi gue mau ngajak kalian buat “Time Travel”1.

Putih abu-abu

                Sekarang kita udah sampe di pertengahan tahun 2005 menuju ke tahun 2006, dimana pada waktu itu gue masih pake seragam putih abu-abu dan duduk di bangku SMA yang penuh coretan, dimana di tingkatan tersebut kita lagi bandel-bandelnya. Gue jadi inget waktu itu gue pernah diajar sama seorang guru muda, entah dia lagi praktek apa emang lulusnya kecepetan, jadi masih muda udah ngajar. Dan waktu itu juga kenakalan remaja pun dimulai. Karena dia masih muda, jadi anak-anak seusia gue pada waktu itu pun menganggap dia sebagai kakak, bukan sebagai guru, dan perlakuan yang kami berikan pun layaknya seorang adik ke kakaknya, mungkin bisa dibilang gak sopan. Singkat cerita waktu itu gue sama temen-temen emang sering ngobrol waktu belajar di kelas, jadi lebih sering merhatiin temen gue daripada merhatiin guru yang mungkin waktu itu mulutnya udah penuh busa, bukan karena O.D2, melainkan karena terlalu asik bercuap-cuap tanpa menghiraukan perhatian murid-muridnya yang sama sekali gak merhatiin dia. Dan karena dia mungkin udah gak tahan dengan semua itu, dia mutusin buat gak ngajar lagi, dan kami pun menanggapinya biasa saja, dan menganggap itu semua bukan masalah. Itu tadi waktu duduk di bangku kelas 1 menuju ke kelas 2, dan sekarang ceritanya udah duduk di kelas 3, dimana waktu itu gue sama temen-temen masih aja usil, mulai dari bolos pelajaran, karena lebih memilih duduk di kursi kantin yang udah mau patah ketimbang duduk di kursi kelas yang emang udah ada yang patah. Selain bolos pelajaran, kita juga sering banget isengin jam dinding yang ada di deket tempat piket guru, dan si jam itu kita percepat waktunya, dan kita geser jarumnya, iseng memang, tapi itulah indahnya masa putih abu-abu. Tapi itu semua belum berhenti di jam dinding, masih ada lagi keisengan yang kita lakuin, terutama yang gue lakuin dan gue jadi inget kalo gue dulu pernah iseng ke guru gue. Pak sukoy namanya, mirip kaya nama pesawat, tapi bedanya dia ga punya sayap, dia cuma punya kabinnya aja, yang gak lain adalah perutnya yang gede kaya kabin pesawat. Hehe… jadi itulah kenapa gue sama temen-temen manggil di dengan sebutan sukoy, yang sebenernya nama dia itu tuh pak Sukoyo. Orangnya gemuk, terus kalo tiap abis ngasih materi dia suka nyuruh kita buat ngerjain LKS3, dan terus dia tidur. Dan gue, lebih memilih buat ngerjain dia ketimbang ngerjain LKS. Waktu dia tidur, temen gue gak sengaja bawa Handycam, yang pada waktu itu udah jadi barang yang cukup mewah dikelasnya. Dan disanalah kenakalan pun terjadi lagi, dan gue lah pelakunya. Jadi waktu itu gue pinjem kamera temen gue itu buat mengabadikan gambar si pak sukoy yang lagi asik tidur sambil sesekali merekamnya, dan sialnya, waktu itu dia gak terlalu pulas tidurnya, jadi waktu gue mulai motret dia, dan selanjutnya merekam aksi tidurnya, tiba-tiba dia bangun, dan gue pun tersipu malu. Tapi yang bikin gue heran, dia sama sekali gak marah, dia malah pengen liat hasil jepretan dan hasil rekaman dari kamera amatir seperti gue ini. Dia cuma manggil gue dengan sebutan “semprul”4, dan sebutan itulah yang melekat di diri gue setiap pelajaran dia. Gue sedikit ngerasa gak enak dan ngerasa bersalah sama dia, tapi untungnya dia baik, jadi gue sedikit lega. You’re the best teacher sir, and I’m proud of you.

Pengalaman jadi guru

                Oke sekarang kita udah balik lagi ke tahun 2012, dimana sekarang gue harus siap ngalamin hal yang sama kaya yang dialamin sama guru-guru gue waktu SMA dulu. Dan sekarang gue ngerasain pengalaman jadi guru, dan itu tuh ternyata warna-warni sekali yah, ada suka dan dukanya juga, mulai dari terpaksa harus rela bangun pagi sampe rela buat diketawain sama murid-murid, entah karena apa, tapi itulah rasanya jadi guru, dan waktu pertama kali gue mulai ngajar di Angkasa, gue akui ternyata gak gampang buat jadi guru. Tangan sama kaki gemeteran, lidah berasa kaku, keringat berasa kaya abis diguyur air se-ember, tampang udah gak karuan, ditambah lagi ada guru asli yang ngawas selama ngajar, dan ditambah dengan murid-murid yang seolah-olah gue lagi ngajar si “gue” versi SMA dulu, dan itu semua gue alamin sekarang. Oya, tadi gue sempet bilang kalo gue sekarang ngajar di Angkasa, tapi bukan berarti gue beneran ngajar di Angkasa, melainkan di SMA Angkasa, tepatnya di deket Lanud Husein Sastranegara (kalo gak salah ngetik), di Kota Bandung, dan gue disuruh ngajar kelas X (sepuluh). Kalian tau kan kalo anak seumuran segitu lagi tengil-tengilnya, soalnya mereka lagi ada di fase transisi dari SMP ke SMA, dari bocah menuju remaja. Dan itu semua udah jadi sarapan gue tiap ngajar disana, dan harus gue jalanin selama 3 bulan, dan rasanya tuh gue pengen banget cepetin si jam dinding lagi biar gue cepet pulang ke tempat kost. Kalo inget itu semua gue jadi ngerasa kalo karma itu beneran ada, dan sejarah pun akan terulang kembali, dan sekarang gue ngalamin itu semua, tapi gue gak nganggep itu semua sebagai karma, melainkan sebagai warna lain yang mewarnai kehidupan gue sekarang, dan gue jadi ngerasa tertantang buat menjadi seorang guru (sementara) yang siap buat mencerdaskan generasi-ggenerasi penerus gue kelak, dan itulah tantangannya dan itu pula kenikmatan yang akan gue rasain dari sekarang sampe 2-3 bulan kedepan.

Mau jadi guru apa engga?

                Kalo ada pertanyaan kaya gini, mungkin gue akan jawab gini “hmm, gimana yah…pikir-pikir dulu kayanya, gue belum siap lahir dan batin nih..masih pengen bebas”. Mungkin itu yang bakal gue bilang kalo ada yang nanya kaya gitu, sama halnya kaya ditanya “mau nikah kapan?” atau “mau wisuda kapan?” dan sebagainya. Tapi 1 hal yang gak akan gue lupakan yaitu gue cuma mau bikin mereka cerdas, gak peduli mereka mau merhatiin apa engga, gak peduli mereka mau ngetawain gue apa engga, dan gak peduli gue mau ngajar apa engga, yang penting gue mau melakukan tugas mulia ini sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang saat ini nasibnya kurang beruntung, karena guru di Indonesia itu masih belum dihargai, dan gak heran kalo bangsa ini bisa dibilang bangsa yang gak bisa menghargai apapun, termasuk gue, dan gue akui itu semua adalah realita kehidupan yang ada di bumi, bukan cuma di Indonesia aja, tapi di negara lainpun mungkin sama ceritanya kaya di Indonesia. Dan itu kenapa gue gak betah jadi warga negara Indonesia, tapi gue tetep cinta Indonesia, tanah dimana gue dilahirkan, dan mungkin juga jadi tanah tempat gue dimakamkan kelak. I’m proud to be Indonesian.
Cheers :D


Daftar Istilah :
(1) : Istilah asing yang berarti perjalanan lintas waktu, (2) : singkatan dari istilah Overdosis, (3) : singkatan dari Lembar Kerja Siswa, (4) : panggilan sayang buat gue dari guru gue dan gue gak tau artinya.

Jumat, 20 Juli 2012

Story Of Tian: PART 8

Story Of Tian: PART 8: PART 8 BUAH VS ROBOT VS AL4Y, ANTARA BRAND, SISTEM OPERASI, DAN SISTEM KERJA OTAK. Hallo masboss, jumpa lagi kita di bulan yang ...