Jumat, 21 Maret 2014

PART 21 T he amazing vegetables



T he amazing vegetables

Dari tahun ke tahun harga sayuran yang beredar di pasaran pasti naik, mulai dari harga bawang, tomat, wortel, dan cabe pun ikutan naik. Tapi sekarang yang jadi sorotan itu sayuran dari bangsa cabe-cabean. Gue gak tau awalnya dari mana, tapi yang gue tau sekarang itu si cabe-cabean lagi jadi bahan obrolan semua orang. Mulai dari orang tua sampe anak muda sekarang jadi sering ngomongin cabe-cabean.

Gue heran, sebenernya semahal apa sih harga cabe, padahal menurut gue justru yang harus mahal itu harga bawang, soalnya jaman dulu, keluarga bawang itu jadi primadona karena mereka sekeluarga udah sukses meniti karir jadi keluarga artis yang sampe sekarang pun masih banyak orang yang inget sama mereka, maklum artis. 

Mungkin kalian semua sempet nonton film yang dibintangi sama keluarga bawang dan ceritanya itu sedih banget. Kalo menurut gue film itu tuh secara gak langsung udah ngebuka aib keluarga bawang yang ternyata hubungannya enggak harmonis, terutama hubungan antara bawang merah dan bawang putih. Katanya sih bawang merah itu jahat dan sering banget nangisin si bawang putih, ya itu sih baru katanya, dan gue belum sempet mewawancarai mereka berdua soal kabar yang beredar, dan gue harap suatu saat nanti mereka berdua mau angkat bicara buat mengklarifikasi apa benar mereka berdua itu musuhan, dan apa benar kalo salah satu diantara mereka itu adalah seorang anak tiri yang diangkat dan diasuh sama si ibu bawang, atau semua itu ternyata cuma fiktif belaka yang sengaja direkayasa buat menaikkan harga pasaran bawang yang dulu sempat anjlok di pasaran.

Kalo ngomongin soal sayur, mungkin gue bukan ahlinya. Tapi ada hal unik yang menarik gue buat ngomongin soal salah satu dari sekian banyak keluarga sayur-sayuran, dan pilihan gue jatuh kepada keluarga dari bangsa cabe, terutama cabe-cabean yang bisa dibilang masih muda dan cenderung belum cukup umur buat dipanen, tapi sekarang malah banyak orang suka sama mereka, dan itu yang bikin gue ngerasa penasaran sama cabe-cabean.

Cabe, mungkin kata yang pas buat menggambarkan sosok cabe itu adalah kata pedas, hot, spicy, dan masih banyak kata yang gak bisa gue ungkapin semuanya karena ada beberapa kata yang  belum lulus sensor, dan gue gak mau nulis semuanya disini, soalnya kasian kalo nanti sampe ada anak kecil yang terlibat kasus cuma gara-gara baca tulisan gue tentang cabe-cabean ini.

Sebenernya apa sih yang menarik dari cabe-cabean, padahal cuma cabe biasa dan ujung-ujungnya pasti diulek, ditumbuk, bahkan digiling di blender, tapi ada juga yang cuma dijemur. Terus, yang bikin mereka menarik itu apa? Padahal rasanya sama aja gak ada bedanya, tetep aja pedes dan gue sampe sekarang gak suka sama mereka, soalnya mereka jahat, mereka udah bikin gue jadi rajin ke wc tiap abis makan mereka, dan gue baru tau ternyata lambung gue belum siap nerima mereka buat mengisi ruang kosong di lambung gue, dan justru mereka malah lebih sering mengisi ruang kosong di pantat gue, jadi gue terpaksa harus ngeluarin mereka dan ngebuang mereka ke wc.

Back again to “cabe-cabean” and let’s talk about them now. Nah, sekarang yang lagi heboh tuh istilah “cabe-cabean”, dan istilah inilah yang sering dipake sama anak muda jaman sekarang buat cewe-cewe, terutama cewe-cewe belia yang umurnya masih belasan tahun dan tingkah lakunya bikin semua cowo-cowo jadi gemes dan penasaran sama mereka, entah penasaran karena tingkah lakunya, ataupun penasaran buat nyobain cabe-cabean.

Banyak orang yang penasaran sama cabe-cabean, mungkin karena penampilan mereka yang mencolok dan seolah-olah mereka bangga sama celana “gemes” dan baju tipisnya yang sekarang saingan sama produk gadget yang sekarang makin tipis, atau bisa juga saingan sama tipisnya celana dalam yang sengaja didesain seadem mungkin biar gak gampang keringetan. Mungkin itu sedikit gambaran tentang cabe-cabean yang dilihat dari cara mereka berpakaian serba minim dan cenderung bikin orang jadi miris ngeliatnya dan sedikit mengetuk hati buat ngasih sumbangan pakaian layak pakai buat mereka biar mereka gak kedinginan tiap pake pakaian yang serba minim itu.

Kalo tadi soal penampilan, sekarang kita ngebahas soal tingkah laku mereka yang menggemaskan dan sedikit bikin sebagian cowo-cowo jadi gerah dibuatnya. Tingkah yang centil, dan cara ngomong yang sedikit lebay dan seolah dibuat-buat biar diperhatiin sama cowo-cowo, maklum masih abege, masih labil dan butuh bimbingan orang tua. Tapi yang gue takutin justru dampak adanya cabe-cabean yang malah bikin harga cabe jadi turun, bahkan jadi gak laku di pasaran. Kalo sampe nanti harga cabe turun, gimana nasib para petani cabe yang udah ngerelain hidup mereka cuma buat ngurus cabe-cabean. Gimana jadinya kalo nantinya posisi cabe digantikan sama cabe buatan pabrik yang sekarang lagi marak beredar di pasaran dengan aneka macam kombinasi rasa dengan tingkat kepedasan yang bervariatif dan harga yang terjangkau sama kantong mahasiswa yang kondisinya cenderung masih belum stabil.

Selain cabe-cabean, ada juga istilah terong-terongan, dan istilah itu lebih ditujukan buat cowo-cowo yang tingkahnya sedikit mendayu-dayu dan bergerak seolah tanpa tulang mirip kaya ayam tulang lunak, dengan gaya bicara yang sedikit kemayu mirip lekong yang sering nongkrong di taman lawang, dan itu bikin gue geli banget ngeliatnya. Sebagai cowo sejati, gue ngerasa kalo mereka para terong-terongan itu udah merusak citra cowo-cowo normal. 

Fenomena cabe-cabean dan terong-terongan yang sekarang lagi trend di kalangan anak muda jaman sekarang itu seolah-olah udah mengganggu kestabilan dunia sayuran, dan gue yakin kalo sekarang tuh harga diri bangsa cabe dan terong itu udah dianggap rendah sama bangsa sayur lainnya, atau malah mereka sekarang jadi bahan olok-olokan dari keluarga bawang dan tomat. Kalo sampe itu semua terjadi, mungkin nanti kita gak akan lagi bisa menikmati enaknya sambel, soalnya sambel itu gak bakal enak kalo cuma dibuat dari cabe. Sambel yang enak itu yang dibuat dari hasil perpaduan antara cabe, bawang, sama tomat. Coba bayangin kalo seandainya keluarga bawang dan keluarga tomat udah gak mau lagi disatuin sama keluarga cabe, udah dipastikan gak akan ada lagi sambel yang enak yang bisa kita nikmatin lagi. Kalo gue sih gak masalah, soalnya gue gak suka pedes, tapi yang gue takutin tuh justru nasib orang-orang yang suka makan sambel, gimana jadinya mereka tanpa sambel? Mungkin nanti bakal ada berita yang isinya tentang kematian sekelompok orang yang mogok makan cuma gara-gara gak ada sambel, dan mereka memilih mati daripada hidup di dunia tanpa sambel.

Tapi gak perlu khawatir, soalnya gue yakin kalo disetiap permasalahan pasti ada solusi didalamnya, dan menurut gue, solusi yang tepat buat mengatasi permasalahan yang muncul itu intinya ada di kualitas hubungan yang terjalin antar sesama. Hubungan antara bangsa sayur dan bangsa manusia harus harmonis, jangan ada diskriminasi antar keduanya. Bangsa sayur harus bisa menerima kenyataan kalo cabe-cabean dan terong-terongan itu masih termasuk kedalam keluarga besar sayur-sayuran. Mereka cuma butuh sedikit bimbingan buat bisa memperbaiki hidup mereka, dan kita sebagai bangsa manusia pun harus bisa memaklumi mereka, karena ada masanya kita juga bertingkah layaknya mereka, dan gue pun mengakui kalo gue juga pernah jadi alay, gue pernah masuk kedalam dunia alay yang gelap tapi akhirnya seiring berjalannya waktu, gue perlahan-lahan bisa berubah jadi lebih baik, dan biarkan mereka para cabe-cabean dan terong-terongan menjadi seperti apa yang mereka inginkan, karena itulah mereka, para sayuran ajaib. Dan apapun yang terjadi mereka bakal tetep jadi The Amazing Vegetables.

So, what are you worry about? I think that’s not a big problem, we just need to be a wise person, and don’t ever judge a book by it’s cover, because anything that you see are just your reflection in the past, and what we have to do now just enjoy our life, because life is the amazing things that we got from god.

Salam terong, sampai ketemu di dunia fantasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar