T he amazing vegetables
Dari tahun ke tahun harga sayuran yang beredar di
pasaran pasti naik, mulai dari harga bawang, tomat, wortel, dan cabe pun ikutan
naik. Tapi sekarang yang jadi sorotan itu sayuran dari bangsa cabe-cabean. Gue
gak tau awalnya dari mana, tapi yang gue tau sekarang itu si cabe-cabean lagi
jadi bahan obrolan semua orang. Mulai dari orang tua sampe anak muda sekarang
jadi sering ngomongin cabe-cabean.
Gue heran, sebenernya semahal apa sih harga cabe,
padahal menurut gue justru yang harus mahal itu harga bawang, soalnya jaman
dulu, keluarga bawang itu jadi primadona karena mereka sekeluarga udah sukses
meniti karir jadi keluarga artis yang sampe sekarang pun masih banyak orang
yang inget sama mereka, maklum artis.
Mungkin kalian semua sempet nonton film yang dibintangi
sama keluarga bawang dan ceritanya itu sedih banget. Kalo menurut gue film itu
tuh secara gak langsung udah ngebuka aib keluarga bawang yang ternyata
hubungannya enggak harmonis, terutama hubungan antara bawang merah dan bawang
putih. Katanya sih bawang merah itu jahat dan sering banget nangisin si bawang
putih, ya itu sih baru katanya, dan gue belum sempet mewawancarai mereka berdua
soal kabar yang beredar, dan gue harap suatu saat nanti mereka berdua mau
angkat bicara buat mengklarifikasi apa benar mereka berdua itu musuhan, dan apa
benar kalo salah satu diantara mereka itu adalah seorang anak tiri yang
diangkat dan diasuh sama si ibu bawang, atau semua itu ternyata cuma fiktif
belaka yang sengaja direkayasa buat menaikkan harga pasaran bawang yang dulu
sempat anjlok di pasaran.
Kalo ngomongin soal sayur, mungkin gue bukan
ahlinya. Tapi ada hal unik yang menarik gue buat ngomongin soal salah satu dari
sekian banyak keluarga sayur-sayuran, dan pilihan gue jatuh kepada keluarga
dari bangsa cabe, terutama cabe-cabean yang bisa dibilang masih muda dan
cenderung belum cukup umur buat dipanen, tapi sekarang malah banyak orang suka
sama mereka, dan itu yang bikin gue ngerasa penasaran sama cabe-cabean.
Cabe, mungkin kata yang pas buat menggambarkan sosok
cabe itu adalah kata pedas, hot, spicy, dan masih banyak kata yang gak
bisa gue ungkapin semuanya karena ada beberapa kata yang belum lulus sensor, dan gue gak mau nulis
semuanya disini, soalnya kasian kalo nanti sampe ada anak kecil yang terlibat kasus
cuma gara-gara baca tulisan gue tentang cabe-cabean ini.
Sebenernya apa sih yang menarik dari cabe-cabean,
padahal cuma cabe biasa dan ujung-ujungnya pasti diulek, ditumbuk, bahkan
digiling di blender, tapi ada juga yang cuma dijemur. Terus, yang bikin mereka menarik
itu apa? Padahal rasanya sama aja gak ada bedanya, tetep aja pedes dan gue
sampe sekarang gak suka sama mereka, soalnya mereka jahat, mereka udah bikin
gue jadi rajin ke wc tiap abis makan mereka, dan gue baru tau ternyata lambung
gue belum siap nerima mereka buat mengisi ruang kosong di lambung gue, dan
justru mereka malah lebih sering mengisi ruang kosong di pantat gue, jadi gue
terpaksa harus ngeluarin mereka dan ngebuang mereka ke wc.
Back again to “cabe-cabean” and
let’s talk about them now. Nah, sekarang yang lagi heboh tuh istilah
“cabe-cabean”, dan istilah inilah yang sering dipake sama anak muda jaman
sekarang buat cewe-cewe, terutama cewe-cewe belia yang umurnya masih belasan
tahun dan tingkah lakunya bikin semua cowo-cowo jadi gemes dan penasaran sama
mereka, entah penasaran karena tingkah lakunya, ataupun penasaran buat nyobain
cabe-cabean.
Banyak orang yang penasaran sama cabe-cabean,
mungkin karena penampilan mereka yang mencolok dan seolah-olah mereka bangga
sama celana “gemes” dan baju tipisnya yang sekarang saingan sama produk gadget yang sekarang makin tipis, atau
bisa juga saingan sama tipisnya celana dalam yang sengaja didesain seadem
mungkin biar gak gampang keringetan. Mungkin itu sedikit gambaran tentang
cabe-cabean yang dilihat dari cara mereka berpakaian serba minim dan cenderung
bikin orang jadi miris ngeliatnya dan sedikit mengetuk hati buat ngasih
sumbangan pakaian layak pakai buat mereka biar mereka gak kedinginan tiap pake
pakaian yang serba minim itu.
Kalo tadi soal penampilan, sekarang kita ngebahas
soal tingkah laku mereka yang menggemaskan dan sedikit bikin sebagian cowo-cowo
jadi gerah dibuatnya. Tingkah yang centil, dan cara ngomong yang sedikit lebay
dan seolah dibuat-buat biar diperhatiin sama cowo-cowo, maklum masih abege,
masih labil dan butuh bimbingan orang tua. Tapi yang gue takutin justru dampak
adanya cabe-cabean yang malah bikin harga cabe jadi turun, bahkan jadi gak laku
di pasaran. Kalo sampe nanti harga cabe turun, gimana nasib para petani cabe
yang udah ngerelain hidup mereka cuma buat ngurus cabe-cabean. Gimana jadinya
kalo nantinya posisi cabe digantikan sama cabe buatan pabrik yang sekarang lagi
marak beredar di pasaran dengan aneka macam kombinasi rasa dengan tingkat
kepedasan yang bervariatif dan harga yang terjangkau sama kantong mahasiswa
yang kondisinya cenderung masih belum stabil.
Selain cabe-cabean, ada juga istilah
terong-terongan, dan istilah itu lebih ditujukan buat cowo-cowo yang tingkahnya
sedikit mendayu-dayu dan bergerak seolah tanpa tulang mirip kaya ayam tulang
lunak, dengan gaya bicara yang sedikit kemayu mirip lekong yang sering
nongkrong di taman lawang, dan itu bikin gue geli banget ngeliatnya. Sebagai
cowo sejati, gue ngerasa kalo mereka para terong-terongan itu udah merusak
citra cowo-cowo normal.
Fenomena cabe-cabean dan terong-terongan yang
sekarang lagi trend di kalangan anak muda jaman sekarang itu seolah-olah udah
mengganggu kestabilan dunia sayuran, dan gue yakin kalo sekarang tuh harga diri
bangsa cabe dan terong itu udah dianggap rendah sama bangsa sayur lainnya, atau
malah mereka sekarang jadi bahan olok-olokan dari keluarga bawang dan tomat.
Kalo sampe itu semua terjadi, mungkin nanti kita gak akan lagi bisa menikmati
enaknya sambel, soalnya sambel itu gak bakal enak kalo cuma dibuat dari cabe.
Sambel yang enak itu yang dibuat dari hasil perpaduan antara cabe, bawang, sama
tomat. Coba bayangin kalo seandainya keluarga bawang dan keluarga tomat udah
gak mau lagi disatuin sama keluarga cabe, udah dipastikan gak akan ada lagi
sambel yang enak yang bisa kita nikmatin lagi. Kalo gue sih gak masalah,
soalnya gue gak suka pedes, tapi yang gue takutin tuh justru nasib orang-orang
yang suka makan sambel, gimana jadinya mereka tanpa sambel? Mungkin nanti bakal
ada berita yang isinya tentang kematian sekelompok orang yang mogok makan cuma
gara-gara gak ada sambel, dan mereka memilih mati daripada hidup di dunia tanpa
sambel.
Tapi gak perlu khawatir, soalnya gue yakin kalo
disetiap permasalahan pasti ada solusi didalamnya, dan menurut gue, solusi yang
tepat buat mengatasi permasalahan yang muncul itu intinya ada di kualitas
hubungan yang terjalin antar sesama. Hubungan antara bangsa sayur dan bangsa
manusia harus harmonis, jangan ada diskriminasi antar keduanya. Bangsa sayur
harus bisa menerima kenyataan kalo cabe-cabean dan terong-terongan itu masih
termasuk kedalam keluarga besar sayur-sayuran. Mereka cuma butuh sedikit bimbingan
buat bisa memperbaiki hidup mereka, dan kita sebagai bangsa manusia pun harus
bisa memaklumi mereka, karena ada masanya kita juga bertingkah layaknya mereka,
dan gue pun mengakui kalo gue juga pernah jadi alay, gue pernah masuk kedalam dunia alay yang gelap tapi akhirnya seiring berjalannya waktu, gue
perlahan-lahan bisa berubah jadi lebih baik, dan biarkan mereka para
cabe-cabean dan terong-terongan menjadi seperti apa yang mereka inginkan,
karena itulah mereka, para sayuran ajaib.
Dan apapun yang terjadi mereka bakal tetep jadi The Amazing Vegetables.
So, what are you worry about? I think that’s not a
big problem, we just need to be a wise person, and don’t ever judge a book by
it’s cover, because anything that you see are just your reflection in the past,
and what we have to do now just enjoy our life, because life is the amazing
things that we got from god.
Salam terong, sampai ketemu di dunia fantasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar